Rabu, 05 Januari 2011

25 Tahun lalu



Kicau burung berserakan seiring irama yang bertabuh,
kaki-kaki kecilnya menetak tempel dipohon bambu depan  hunian rumah mak ongah,
Sejuk mengikatku dalam selimut sarung yang masih manja mesra mencium pinggangku,  membuat aku semakin  malas hendak bergegas menuju tepian sungai kampau.

Tragedi mesra ini mengingatkan aku 25 tahun silam disaat usiaku dinobatkan 10 tahun, ketika  aku menjenguk kampong kelahirannya.
Anak kecil itu dijangki  atuk dan dipapah nenek dengan pegangan erat menjamah tangan mungilnya,
berjalan kaki berjam-jam menuju kampong kecil terpencil yang diapit anak sungai,
bejalan dengan membunuh rumput-rumput hijau  yang menjalar rapi, sambil  injakan kaki tua dan kaki mungil yang menggeletak lunglai dalam ayun mendekat sampai.

Sebelum  mecampakkan sarung aku berpangku di jenjang rumah sambil menoleh jalan raya yang pernah aku tapaki dahulunya, lalu lalang anak adam bersimbah wajah-wajah ceria, kayuh sepeda unta sudah berubah menjadi mesin-mesin menyala, amat cepat perubahan ini.

Zam, ngapo waang monuong tu, la jam 7 ko, poi la mandi, mandi diuma bisa, nak mandi disungai bisa juo, tapi elok-elok yo jan sampai digigik lintah..(mak ongahku  bersahut dari sudut rumah, menyentakkan aku dari lamunan ini)

Sedih bersahut di relung hati , diketuk kenangan lama ingat atuk dan nenekku,
mereka telah mengasihiku seperti kasihnya ayah dan ibu,
selamat engkau disana aku selalu mendo’akanmu di setiap sholat ku.

Desa Ganting (Bangkinang Barat)

SEUTAS SENYUM



Seutas senyum itu mulai hilang nakalnya ,
mencoba lari dari selipan singlet yang tergantung dipaku yang menancap didinding,
meyerakkan gelak hampa tampa  peraduan manja,
tak kuat lagi menusuk kamar rumah bambu tua,
hingga tak tembus menyinari kegelapan semalam.

Seutas senyum itu akhirnya layu dipucuk yang tak jadi mekar,
bagai putik berguguran,
bertelanjangan dengan biji-bijian yang masih mentah,
mungkal,
dan layu dalam genggaman gersang tanpa ikatan,
membuat ia terkulai dan memilih bunuh diri.

Seutas senyum itu tak mampu berisik,
Tak berdaya mengusik,
tak sanggup lagi tebar pesona,
tak hendak membisikkan gelak yang menggelegak.

Seutas senyum itu kini lusuh,
telah bertandang jauh keluar dari kaos putih yang pernah membungkusnya,
senyuman  dengan deraian air mata duka nestapa,
sedih sejadi-jadinya.

Aku dan dia tak sanggup senyum berlama-lama...




Ketika itu



 

ketika itu
tutur melambai
berdering kencang menyapa
menyapu jumpa
seperti helatan dalam temu ramah

ketika itu
jari jemari berhuluran
detak hati bergayut dalam kibasan
jiwa merona
sedu sedan tak pernah berderai
tak terbayang sayap  lukanya

ketika itu
pundak langit tak mampu membungkuk
hijau daun semakin segar
gemericik air memantulkan nada
memecah keheningan
seolah kembang mekar mulai menyeruak

ketika itu
semunya seperti telah terjadi
ketika itu juga kita saling tidak mengerti....