Senin, 06 Desember 2010

Diamuk Resah



Tengah malam buta engkau memaksa aku untuk  mengangkat telpon selulerku,
Aku terkejut, kerena tidak seperti biasanya engkau melakukan cara-cara itu ketika menghubungi ku, dengan nada sambungku sebuah lagu berjudul diambang wati (lagu seberang) menyentakkan aku dari lelapnya tidur setelah penat menggerayangi tubuhku.

Terkaget,  seteleh aku genggam  ternyata engkau sahabat lama tempo dulu yang sejak lama  tidak membangun komunikasi.  Suaramu tidak berubah membayangkan aku dengan sosok idealmu sebagai seorang laki-laki yang santun, tutur dan kelakar sendamu masih tak berubah seolah-olah kita dalam dekat yang menyatu.

Engkau menyampaikan keluh kesah mu dengan gelagat  melayu kentalmu. Engaku bercerita tentang banyak hal dengan seloka yang sesekali menyentil ku ketika gurau kita  ayunkan sejenak . hingga tanpa tersa celoteh kita khatam pukul 03..00 pagi.  Engkau adalah sahabat karibku bahkan pernah selalu membantuku dan aku takkan pernah meluputkan jasa mulia mu.

Engkau resah dengan pengalaman pelit  yang menimpamu ketika tergiur dengan dunia politik praktis yang semu, engkau mencoba ingin menjadi politikus dengan memposisikan diri sebagai calon legislatif yang digaji oleh rakyat dengan nominal rupiah yang yang menggiurkan. Engaku telah menjual asset berhargamu, setelah itu engkau hanyut dan tenggelam dalam keterpurukan yang amat mendahsyatkan.

Rizal itulah nama akrabmu, engkau telah memiliki pandangan jauh kedepan, akan tetapi nasib berkata lain, keberuntungan belum memihak utukmu, taqdir yang tersirat  dalam warkahmu belum memberikan jejak yang ampuh terhadap cita-citamu. Sebenarnya engkau figur  idealis yang aku kenal karena kita sama-sama pernah mendirikan organisasi AMPEKASI ketika dikampus dulu.

Kini cita-citamu kandas seiring berakhirnya pemilu legislatif, harapan tinggal harapan pemenang melenggang dikursi empuk sedang engkau hanya ditemani kursi lusuhmu yang biasa engkau gunakan untuk menyiapkan laporan kerja harianmu. Aku sebenarnya turut prihatin dengan apa yang sedang menggeledahmu, tapi hanya uluran moril dan do’a yang manpu aku pohonkan untukmu.

Politik memang keras, politik sarat kepentingan, politik tidak ada kawan dan lawan yang  ada hanyalah tergiur oleh kekuasaan. Politik memang telah diatur dalam undang-undang, jika tidak cermat menggelutinya, maka kita akan kandas dalam permainan. Politik memang besar diongkos dan politik selalu membuat kita hanyut ,  ketika kalah maka berubah jadi  meresahkan.

Hatimu kini mulai menyesali, dan engkau telah tahu persis pola yang diperankan oleh rekan dan lawan politikmu. Engkau telah dibunuh oleh angan-anganmu sendiri karena engkau salah dalam membaca peta politik yang engaku perankan. Penyesalan selalu terakhir, tapi apa gunanya untuk dikenang jika hanya membuat pikir dan jiwa menjadi tak tenang.

Rizal, aku menghargai  alur hidupmu, jika engaku belum menemukan hasil dari perjuanganmu, maka coba lagi jika ada peluang. Karena aku tahu, bahwa ketika kita hiruk pikuk dalam melakukan interupsi sementara kita tidak punya kapasitas merubahnya itu berarti kita hanyalah sebagai penonton biasa  karena kita berada  diluar sistem itu. . Jika engkau telah benar-benar dalam sistem itu maka engkau akan bisa membawa sebuah perubahan untuk melakukan pencerahan terhadap sistem-sistem yang selalu membuat hilangnya kepercayaan rakyat terhadap wakilnya… ....... Coba lagi sahabatku, karena  hidup adalah perbuatan kata Sutrino Bachir. 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar