Hari telah menunjukkan pukul 04.30 WIB , bu tinah masih tergolek lemas dikasur tidur disebuah kamarnya, keringat membutir diseluruh pori, beringas nafas menyela pada sisi dua bibir, sesekali mulut itu ternganga hengah, sesak seakan menggilas nyawa yang tersisa. Kadir sang suami tetap setia mendampingi istri sambil memegang pangkal lengan Tinah seiring menempelkan telapak tangan istri pada pipi kanannya.
“ Tin” sahut kadir . panggilan akrap untuk istri
“ Kamu tenang sayang, sebentar lagi semuanya selesai”.
Tinah semakin kuat mengerang, keringat semakin memuai ditubuh setengah telanjang itu.
Selang beberapa detik, suara Tinah melemah, badannya mulai lunglai seketika , nafasnya lega . NGUEK. NGUEK, NGUEK,, si bidan desa langsung memegang sicabag bayi kecil mungil nan manis itu, sambil berucap
“Alhamdulillah anaknya laki-laki bu” Ungkap bidan.
Hebatnya lagi ternyata anak itu kembar dan keduanya adalah laki-laki.
Jam ketika itu telah bergeser menunjukkan pukul 05.55 menit, suara azan mulai memecah hening subuh , berdengung diatap masjid kampung. Kadir langsung sujud syukur seketika dan menadahkan tangannya sambil mengadah ke langit-langit plastik rumahnya.
“ Terima kasih ya Allah, Engkau telah dengarkan do’a hamba. Teima kasih ya Allah” .Do’a kadir ketika menggema.
Lalu kadir menggendong lembut anak kembarnya satu persatu diazankannya agar kalimat pertama yang didengar oleh anaknya adalah kalimat thoyyibah, kalimat Jalalah yang mengagungkan Allah SWT, maklum pasangan Kadir dan Tinah adalah potret keluaraga sholeh dan solehah.
17 tahun kemudian
Si kembar tumbuh remaja dengan raut yang tampan dan sempurna. Keduanya cerdas kreatif dan inovatif. Syafiq dan hafiq itulah nama yang diberikan oleh Kadir kepada anaknya nama yang bernuansa Islami karena nama adalah doa.
“Syafiq, kamu dah sholat pa belum ?” sahut ibunya,
“sebentar lagi bu” balas syafiq.
“Fiq udah magribni nak ,sholatlah dulu !, tak baik melalai-lalaikan sholat”.
Ibunya kembali mengingatkan untuk kedua kalinya. Tapi syafiq hanya menganggap suara itu berlalu tampa arti dan tidak membekas baginya. Inilah potret syafiq yang terkesan degil, sekalipun dia sebenarnya cerdas. Berbeda dengan Hafiq disamping cerdas tapi memiliki keperibadian yang ta’at. .
Kasih sayang Kadir dan Tinah tak pernah berhenti untuk semata wayangnya, dari kecil mereka selalu mendapatkan belaian dan perhatian penuh dan tidak pernah dibeda-bedakannya. Hebatnya lagi Syafiq dan Hafiq melalui jenjang pendidikan yang sama hingga tingkat SMA. Sekalipun keluarga Kadir dan Tinah sangat sederhana namun luapan emosional kasihnya tak pernah berhenti terhadap si kembarnya.
Lama kelamaan kedua si kembar mulai menampakkan jati dirinya, sekalipun mereka memililki banyak persamaan, namun si Syafiq nakal dan usil serta selalu membantah kepada orang tuanya. Syafiq suka berkeluyuran, mengganggu gadis-gadis desa, bahkan suka tawuran. Suatu ketika Kadir dipanggil oleh kepala dusun di kampungnya, akibat ulah Syafiq yang telah melakukan pengeroyokan terhadap anak tetangga. Sepulangnya Kadir dari rumah kepala dusun dia memanggil Syafiq.
“ Fiq ayah ingin bicara sebentar denganmu” kadir berucap.
“apa lagi ayah, aku penat yah”.jawab Syafiq.
“Fiq , kenapa dari hari-kehari perangaimu semakin menjadi-jadi. Kamu tahu tidak!, ayah baru saja pulang dari rumah pak KADUS. Kamu jangan mempermalukan ayah”. Kadir sedikit meninggikan suara, matanya melotot bengis memandang Syafiq.
“Yah, aku sudah besar, aku tidak mau diatur seperti anak kecil lagi “ syafiq membalas kata-kata ayahnya.
Ketika perbincangan itu berlansung, Hafiq datang menghampiri suara gaduh itu. Hafiq melihat ayahnya sedang bergaduh dengan Syafiq.
“ Syafiq, kenapa kamu tidak pernah mengakui kesalahan yang kamu lakukan. Siapapun akan tahu dan akan mengatakan bahwa sikapmu adalah tidak terpuji” Hafiq menyela perdebatan itu.
“ Ei,,Hafiq.!! Ini masalah aku, sebaiknya kamu urus masalahmu sendiri”. Syafiq membentak hafiq seketika.
“ udahlah, aku mau istirahat, tak usah ganggu aku dulu untuk seketika”. Syafiq dengan angkuhnya meninggalkan ayah dan Hafiq yang hanya mampu tertegun dan tercengang melihat tingkah Syafiq.
Selang beberapa menit Tinah datang menghampiri suaminya, karena ketika Kadir sedang memarahi Syafiq beliau sedang sholat Isya.
“Bang, kenapa Syafiq seperti ini.? Aku benar-benar tidak mengerti dengan sikapnya, padahal rasanya tidak ada yang salah ketika kita mendidiknya” . Tinah mulai mengeluh dengan sipat anaknya yang makin hari semakin susah diatur. Kadir pun tertegun sejenak lalu menghela nafas panjang menghirup lalu mengeluarkan nafasnya pada sepasang lubang hidungnya dengan tenang.
“Ya, aku juga tidak mengerti Tin. Padahal kita tidak pernah membesarkan anak-anak dengan duit haram. Kita tidak pernah korupsi. Lagipun apa yang kita korupsikan. Kita hanya petani.” Kadir seperti kebingungan. Pandangannya kosong sejenak. Ahirnya Tinah mendekap suaminya dengan melilitkan tangannya pada pinggang Kadir dari belakang, karena Kadir sedang menyondongkan badannya dengan bertopang tangan pada meja ruang tengah di rumahnya.
“Sudahlah bang. Ini barangkali taqdir buat kita.” Pujuk Tinah.
“Ya Tin aku mengerti”.
“ Mana Hafiq ? “ Kadir bertanya pada Tinah
“ Udah tidur kayaknya”. Jawab Tinah
“ Ya udah, muda-mudahan dia selalu menjadi anak yang sholeh.” Sambung Kadir.
“ Ya” Tinah mengulas.
Hari mulai larut , hampir tidak terdengar lagi bunyi-bunyian binatang kecil disekeliling rumah, karena bisa jadi binatang-binatang itu juga sudah tertidur lelap bersama sulam malam yang menjadi kelam pekat memikat. Kedua ayah dan ibu itu kembali melanjutkan perbincangan kecil diranjang lusuh dan mulai menua. Karena matanya belum mau terpejam, akibat ulah Syafiq.
“ Mungkin ini cobaan buat kita Tin. Anak adalah amanah. Dan kita tidak boleh putus asah mendidiknya. Mudah mudahan Allah tidak menghukum kita, karena kita telah berupaya semampu kita untuk menjadikan anak-anak kita sebagai anak yang sholeh” Kadir berbicara dengan raut sedikit sedih, namun ada kelegaan walau sedikit.
“ Ya. Muda-mudahan Bang”. Tinah menyambung.
“Udahlah bang ayo kita tidur, kerna besok pagi kita harus bangun pagi-pagi. menorah getah “.
Akhirnya keduanya tertidur pulas hingga kepagi
S E L E S A I
Catatan:
Ada beberapa pesan moral ygdisampaikan melalui cerpen ini :
- Anak adalah amanah, Orang tua harus optimis mendidik anak dan tidak boleh berputus asa.
- Orang tua akan terhalang masuk syurga, ketika anaknya menjadi durhaka karena tidak mendidiknya sekalipun orang tua itu seorang yg taat.
- Sekalipun anaknya kembar dan memiliki banyak persamaan, ternyata tetap memiliki karakter yang berbeda. Disinilah maha kuasanya Allah
- Anak , harta dan jabatan adalah cobaan buat kita. Oleh karena itu jangan sampai semuanya itu menyusahkan kita, apalagi sampai membuat kita lalai mengingat Allah.
- Kita hanya mampu berusaha, tp kita harus percaya dengan ketetapan Allah (qodho dan qadar ) Allah.
- Dua orang anak berarti dua pula model perangainya, maka banyak anak itu berarti banyak pula perangainya.
- Mari selalu berdoa dan berusaha semoga anak-anak kita menjadi cahaya mata bagi kita. Amin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar