Selasa, 15 Maret 2011

Budaya Penghujat


Hujat adalah mengemukakan pendapat dengan reaksi prontal, sepontas dan refleks mengandung unsur caci maki, merendahkan, menyepelekan bahkan pitnahan. Hujat selalu berkonotasi kepada negatif, karena dalam hal ini ada pihat-pihak dan pribadi yang dilecehkan dan selalunya menggunakan kata-kata kotor dan tidak terpuji

Hujat tentunya tidak bisa disamakan dengan kritikan, karena definisi kritikan itu sendiri adalah  tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya . perumpamaan  kritik adalah vitamin dengan saran sebagai suplemen-nya. Yang lain ada menyebutkan bahwa Kritik adalah ibarat pil pahit yang terpaksa kita makan untuk meningkatkan kualitas kita sendiri. Bahkan ada yang sampai menyatakan kritik adalah  pahlawan di setiap momen kepahlawanan yang tak pernah mendapat tanda pahlawan dan tak pernah diakui sebagai pahlawan. Milan Kundera menyebutkan, kritik adalah perjuangan melawan lupa. Kritik merupakan alat untuk mengingatkan. Tentu saja tidak semua kritik mesti ‘diikuti’ . Istilah kritik di dalam Islam adalah seperti nasehat (nashoha)  dimana setiap muslim wajib melakoninya. Sebagaimana telah dimuat dalam Al Quran  surat al ‘Ashr ayat 3 yang artinya :

 “Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. (al ‘ashr : 3 )

Bahkan kritik bagian dari aktivitas dakwah.. Tentunya dengan cara yang bijakasana  baca al Quran  An nahl : 125 yang maksudnya :

“ Ajakalah manusia kepada jalan Tuhanmu berdasarkan kebijaksanaan, dan tutur kata yang baik dan ajaklah mereka berdiskusi dengan cara yang paling baik “

Jadi hujat dan kritikan perbedaannya  ibarat langit dan bumi,, kerena kritikan selalu berorientasi kepada perbaikan dan selalu sipatnya membangun. Sedangkan hujat malah mencari kesalahan dan kelemahan seseorang lalu dipermalukan dengan kata-kata yang tidak terpuji. Oleh karena itu yang diinginkan adalah kritikan tapi bukan hujatan.

Hari ini yang sering terjadi adalah hujatan demi hujatan. Mencar-cari kesalahan orang sentiment dan selalu tendensius. Lihat demo-demo yang terjadi, hampir bermuara kepada hujatan tanpa memberikan solusi yang berarti. Reformasi salah kaprah. Ini tentunya berakibat kepada semakin runyamnya persoalan dan akhirnya penat tanpa mendapatkan kesimpulan. Satu hal lagi ini bukan budaya bangsa Indonesia .

Kiat-kiat memberikan kritikan (bukan hujatan)

1. Subtansinya jelas
2. bersipat membangun
3. Sampaikn dengan sopan
4. Dengan bahasa yang jelas dapat dimengerti
5. Dapat menyimpulkan
6. Ada eksion untuk perubahan dan perbaikan

Semoga kita  menjadi orang-orang  yang selalu dapat mengkritisi  dan jauh dari sifat-sifat menghujat.


Senin, 8 Nov 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar