Selasa, 05 April 2011

Dia Bertanya

Dalam bingungnya,
dia didatangi dari penjuru depan,
dia bersempulung dalam selimut kumal
dia dipaksa erat dalam berjabat dengan sosok seram
yang belum ia kenal.
Dia terenyuh ketika lontaran-lontaran tanya yang datang
bertubi-tubi.
Pertanyaan maut yang mematikan.

Suara itu seperti cercaan  Jibril tidak dalam menyampaikan
wahyu,
tak ubah gemerincing lonceng yang siap memutuskan
selaput darah gendang telinga.
Suara itu memaki hamun
kenapa engkau lupa,
kenapa engkau larut,
kenapa engkau berpaling.


(Karena kebenaran itu  hanya hidayah dari-NYa)

Kekeluan itu semakin mengental
dalam kalut yang tak menentu.
Sekujur tubuh itu mulai mengulai
mulut terkunci mati, putihnya kapan itu tidak berjahit
telah dikotori  ulat-ulat tanah dan diludahi  cacing-cacing
yang sedang kelaparan.

Tongkat bara  neraka itu menghujam tulang belulang  rusuk,
tanah mengapi, mematahkan rahang-rahang bandel,
akhirnya semua itu  jadi berantakan.

Proposal ibanya tidak diterima lagi
karena amalnya telah terputus,
siap-siaplah menunggu episod berikutnya…..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar